KITA, HITAM DAN PUTIH

HITAM dan putih.

Hitam dan putih memang bukan hanya sebatas Pakaian Dinas Harian (PDH) Aparatur Sipil Negara (ASN) di setiap Rabu.

Tak sebatas celana atau rok warna hitam di bawah dan kemeja putih di atas.

Karena diatur begitu, sejauh ini, sejak diberlakukan mulai Februari 2016 atau 3 tahun 8 bulan silam, belum ada ASN yang “salah kostum”. Putih di bawah hitam di atas.

Hitam dan putih memang bukan sebatas PDH ASN.

Meskipun banyak warnah lain dan ada abu-abu diantaranya, hitam dan putih juga adalah sejatinya kehidupan.

Hitam dan putih bisa dijadikan perlambang atasan dan bawahan. Sebagai isyarat menerima dan memberi.

Bos memberi arahan, anak buah menyampaikan sumbang saran.

Prajurit memberi hormat, komandan menerimanya.

Atasan dan bawahan, prajurit dan komandan, bos dan anak buah, memang tak ditentukan oleh usia.

Tidak juga oleh berat atau tinggi badan, beruban atau tak berambut putih.

Namun demikian esensinya tetap sama, putih "lebih tua" dari hitam. Seperti PDH ASN di setiap Rabu. Putih jadi atasan, hitam jadi bawahan.

Bagaimana dengan “hitam di atas putih”. 

Meskipun disebut demikian, kuantitas putih tetap lebih dibandingkan hitam. Putih tetap johan, walau tak sampai jadi johan pahlawan.

Dalam Islam, siapa pun dia diajarkan untuk menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda.

Etika demikian berlaku umum di semua aspek kehidupan. Yang tua harus dihormati, yang muda mesti disayangi.

“Bukan golongan kami orang yang tak menyayangi yang lebih muda atau tak menghormati yang lebih tua,” demikian sabda Rasulullah SAW.

Hadis tersebut, sesuai referensi yang kami baca, merupakan hadis riwayat (HR) at-Tirmidzi, nomor 1842 dari sahabat Anas bin Malik.

Bahwa dunia tempatnya berpijak tak hanya hitam dan putih, namun dari keduanya kita bisa menikmati alunan musik yang indah.

“Jika Anda ingin membuat musik yang indah, Anda harus memainkan catatan hitam dan putih bersama-sama”, kata Wakil Presiden Amerika Serikat ke-36 dan Presiden Amerika Serikat ke-37, Richard Milhous Nixon.

Memang hanya ada tiga warna yang digunakan sebagai warna dasar benda; kuning, biru dan merah. Selebihnya kombinasi. Gabungan beberapa warna.

Tapi, tanpa hitam dan putih, mungkin sampai kini kita tak akan pernah mengenal foto dan televisi berwarna.

Mata kita bisa membedakan 250 jenis warna, walau sedikit apapun perbedaannya.

Tapi dari 64 kotak hitam dan putih yang sama dan sebangun kita mengenal istilah skak, skakmat, remis, bidak, pion, dan sebagainya.

Hidup ini memang penuh warna. Tapi dalam sebuah lagu, yang ada dalam album kenangan, yang kusimpan selalu, yang kukenang selalu di kala rindu, hanya hitam putih fotomu.

Hidup ini memang tak semata-mata hitam dan putih. Tapi hidup kita akan lebih beragam bila hitam dan putih dipahami lebih dahulu sebelum mulai bermain-main dengan warna lain.

Hidup ini memang banyak sekali warna. Tapi yang dicatat dan akan dibawa hanya dua; hitam dan putih. Karena muara akhir dari hidup dan kehidupan ini juga begitu. Cuma dua; surga dan neraka.

Catatan mana yang akan dibawa, tempat mana yang hendak dituju, kita sendiri yang menentukannya dalam gemerlap warna-warni kehidupan ini.

Kita sendiri yang memilihnya, mau menjadi hitam atau putih. #####

Bengkalis, 12 Oktober 2019


Opini Lainnya

BEJALAR DARI HUJAN

TENANG

TERIMA KASIH

AJEK

Tulis Komentar