PERIGI BENING TAK MENCARI TIMBA

Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, boleh kita berjumpa lagi.

Sumur merupakan salah satu kata dalam pantun di atas.

Persamaan kata sumur adalah perigi. Sumber air buatan, dengan cara menggali tanah.

Sumur dalam bahasa Jawa disebut sendang. Di Sumatera Selatan muradif sumur dalah kambang. Atau well dalam bahasa Inggris. Sementara dalam bahasa Madura, sinonim sumur disebut somor.

Sumur adalah sumber air. Kata sumur digunakan untuk menggambarkan seseorang yang merupakan narasumber. Bisa ilmu, pertolongan, bahkan pemberitaan.

Sumur memang merupakan guru bagi kita. Tentu kalau kita mau memetik pembelajaran darinya.

“Jangan meludah di sumur tempat Anda menimba air untuk minum,” begitu kata sebuah peribahasa.

Artinya: “Janganlah menjelek-jelekkan tempat kita bekerja atau seseorang tempat dimana anda mencari nafkah.”

Maka jika hal tersebut dilakukan, bersiap-siaplah untuk “kelar hidup lo”.

Melubah di sumur tempat kita menimba air untuk minum, memang bermakna menutup pintu rezeki untuk diri kita sendiri.

Melalui sebuah sumur, kita juga diajarkan untuk tidak takut memberi.

Sumur yang setiap hari ditimba, airnya akan menjadi jernih.

Walau ditimba setiap hari diambil airnya, sumur tidak pernah kering. Selalu ada air di dalamnya. Ada penggantinya dan kembali ke posisi semula.

Sedangkan sumur yang jarang ditimba, jarang diambil airnya, volumenya tidak bertambah. Tetap saja.

Bahkan, sumur yang jarang diambil airnya, airnya akan menjadi keruh, kotor, berminyak, dan tidak layak untuk dikonsumsi.

Sumur yang jarang digunakan, tak ditimba-timba, airnya tak bisa dipakai untuk mencuci pakaian atau perabot rumah tangga lainnya.

Kehidupan kita pun pada dasarnya juga sama seperti sumur. Tak ada bedanya.

Namun sebagian orang berpikir, lebih-lebih mereka yang kikir, pelit, lokek, atau kedekut, maka dia berpaham bahwa memberi apa yang dimilikinya bakal menyebabkan apa yang dimilikinya akan susut, menjadi berkurang.

Padahal, jika kita mau berguru dari sebuah sumur, maka semakin banyak dan sering memberi, akan semakin banyak air yang mengalir kepada kita.

Memberi orang lain, tidak harus dalam bentuk uang atau materi. Bisa dalam bentuk ilmu, pengetahuan atau kepandaian.

Saat seseorang mengajarkan dan memberikan ilmu, maka dengan sendirinya kemampuannya akan semakin meningkat.

Jadi, jangan lokek dengan ilmu bila kemampuan kita ingin meningkatkan.

Islam, agama yang kami yakini pun mengajarkan demikian.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw, bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh.”

Tadi siang, Rabu, 20 November 2019, kami mendapat ilmu tentang sumur dari Bupati Bengkalis Amril Mukminin.

Ilmu tersebut disampaikannya ketika kami ikut mendampingi beliau audiensi dengan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bengkalis.

Audiensi tersebut dilakukan di salah satu rumah makan di jalan Hangtuah, Duri, Kecamatan Mandau.

“Sumur yang baru digali tidak akan langsung menghasilkan air yang jernih. Perlu waktu dua atau tiga hari agar airnya bening,” kira-kira begitulah kalimat yang disampaikan Bupati Bengkalis tersebut.

Salah satu “tafsir” yang bisa kami petik dari tunjuk ajarnya itu adalah bahwa tak ada yang instan dalam hidup ini. Ada proses. Butuh waktu. Segala sesuatu itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Termasuk untuk makan mi instan atau minum kopi instan sekalipun.

“Sumur yang bening tidak akan mencari timba,” begitu kata penulis buku “Sepatu Dahlan”, kelahiran Borongtammatea, Jeneponto (sekitar 89 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan), Senin, 10 November 1975, Khrisna Pabichara.

Mau menjadi perigi dengan air yang bening, perigi kering, atau perigi berair keruh, adalah pilihan.

Terserah pada kita. #####

Bengkalis, 20 November 2019


Opini Lainnya

BEJALAR DARI HUJAN

TENANG

TERIMA KASIH

AJEK

Tulis Komentar