BENGKALIS – Langit di atas Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis, tampak begitu tenang pada Selasa, 14 April 2026. Namun, suasana di sebuah kompleks pemakaman terasa berbeda dari biasanya. Harum bunga menyeruak, beradu dengan doa-doa khusyuk yang dipanjatkan di atas pusara sosok pejuang besar, Sang Raja Naulauh Damanik.
Momen ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah perjalanan batin, sebuah napas penghormatan dari keturunan Raja Siantar ke-14 yang kini terpisah jarak ratusan kilometer, namun tetap menyatu dalam balutan sejarah di Negeri Junjungan.
Rombongan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun yang dipimpin langsung oleh Bupati H. Anton Achmad Saragih dan Wakil Bupati Benny Gusman Sinaga, hadir dengan membawa kerinduan mendalam. Ziarah rutin tahunan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-193 Kabupaten Simalungun.

Kehadiran mereka disambut hangat oleh tuan rumah, Pemkab Bengkalis, yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Johansyah Syafri, serta Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Andris Wasono.
Suasana haru menyelimuti saat prosesi tabur bunga dan penyiraman air dimulai. Satu per satu anggota rombongan, termasuk tokoh masyarakat dan keluarga besar Damanik, menundukkan kepala di depan pusara sang raja yang wafat pada tahun 1914 tersebut.
Perwakilan keluarga Damanik, dalam sepatah katanya, membangkitkan kembali memori tentang kejayaan dan keteguhan Sang Raja.
"Beliau adalah Raja ke-14 dari Dinasti Siantar. Sosok yang tak sudi tunduk pada kolonialisme hingga akhirnya ditangkap Belanda pada 1904 dan diasingkan ke Bengkalis," ujarnya dengan nada bergetar.

Raja Naulauh Damanik bukan hanya seorang pemimpin perang yang gigih melawan penjajah sejak kelahirannya pada 1857, tetapi juga dikenal sebagai pelopor agama Islam di wilayah Kerajaan Siantar. Warisan spiritual dan semangat perlawanannya inilah yang kini menjadi obor bagi masyarakat Simalungun.
Para pemuka adat Damanik yang ikut dalam rombongan menitipkan pesan mendalam kepada duet pemimpin Simalungun, Anton dan Benny. Mereka berharap karakteristik luhur Sang Raja dapat diimplementasikan dalam memimpin daerah.
Bupati Anton Achmad Saragih merespons dengan penuh takzim. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Pemkab Bengkalis yang telah merawat makam tersebut hingga kini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Republik Indonesia.
"Ini adalah makam ketujuh yang kami ziarahi dalam rangkaian hari jadi tahun ini. Kami merasa terhormat atas sambutan hangat saudara kami di Bengkalis," tutur Bupati Anton sembari mengundang secara resmi jajaran Pemkab Bengkalis untuk hadir pada puncak perayaan Hari Jadi Simalungun, Sabtu, 18 April mendatang.

Mewakili Bupati Bengkalis Kasmarni, Johansyah Syafri menekankan betapa pentingnya menjaga akar sejarah. Mengutip amanat Bung Karno, ia mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.
"Bengkalis dan Simalungun memiliki benang merah sejarah yang kuat, terutama dalam pengembangan budaya. Kami berharap kunjungan ini menjadi pintu pembuka sinergi dan kolaborasi yang lebih erat di masa depan," ungkap Johan.
Ia juga menutup sambutannya dengan doa tulus untuk kemajuan Kabupaten Simalungun agar semakin maju dan berdaya saing di usianya yang hampir dua abad.
Usai prosesi ziarah dan pertukaran cendera mata sebagai simbol persahabatan, rombongan tidak langsung beranjak. Mereka melanjutkan perjalanan menuju situs bersejarah lainnya, yakni Penjara Tua di Jalan Pahlawan. Di sana, mereka mencoba meresapi sisa-sisa perjuangan masa lalu, membayangkan betapa beratnya penderitaan para pejuang yang diasingkan demi kemerdekaan yang kita nikmati hari ini.

Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa meski raga telah tiada dan waktu terus bergulir, jasa para pahlawan akan selalu hidup selama anak cucunya masih setia merawat ingatan. Dari Bengkalis untuk Simalungun, sebuah penghormatan telah tuntas ditunaikan.

