BENGKALIS – Pagi yang cerah di Gedung SMAN 1 Bengkalis, Rabu 21 Januari 2026, terasa berbeda dari biasanya. Riuh rendah suara siswa tidak hanya membicarakan tugas sekolah, melainkan bergema dalam semangat yel-yel "Gizi Seimbang".
Hari itu, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Bengkalis hadir membawa misi penting: menyiapkan fisik dan mental para remaja demi menyongsong Generasi Emas 2045.

Perhelatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 ini mengusung tema besar "Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045". Suasana edukasi pun dikemas jauh dari kesan kaku.
Kegiatan dimulai dengan tantangan intelektual. Puluhan siswa, yang mayoritas merupakan perwakilan berprestasi dari kelas masing-masing, diajak menguji pengetahuan mereka melalui soal-soal seputar gizi. Ketegangan saat mengerjakan soal seketika mencair saat sesi diskusi interaktif dimulai.

Ketua Persagi Kabupaten Bengkalis, Rita Puspa, dalam sambutannya menekankan bahwa kecerdasan di kelas harus didukung oleh ketahanan fisik yang prima. Ia memberikan "alarm" bagi para siswa mengenai bahaya gaya hidup modern.
"Kami mengajak adik-adik semua untuk mulai memilah apa yang masuk ke tubuh. Kurangi makanan siap saji. Jangan sampai di masa produktif ini, kita justru terhambat oleh masalah obesitas atau penyakit tidak menular lainnya karena pola makan yang salah," ujar Rita penuh harap sembari mengapresiasi dukungan penuh dari pihak sekolah.

Gayung bersambut, Kepala SMAN 1 Bengkalis, Nurhadi, menyambut hangat inisiatif ini. Menurutnya, edukasi ini adalah pelengkap sempurna bagi program yang sedang berjalan di sekolahnya.

"Kami sangat mengapresiasi langkah Persagi. Apalagi, siswa-siswi kami sudah merasakan manfaat program makanan bergizi gratis selama kurang lebih dua bulan terakhir. Edukasi hari ini memberi pemahaman kepada mereka mengapa makanan yang mereka santap itu penting," jelas Nurhadi.
Sebagai narasumber, Desi dari Persagi Bengkalis membedah secara mendalam tentang konsep dasar gizi seimbang. Dengan gaya yang komunikatif, ia menjelaskan bahwa gizi bukan sekadar kenyang, melainkan tentang komposisi yang pas antara karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

Tak sendirian, Persagi juga menggandeng mitra dari SPPG Bengkalis untuk memberikan perspektif tambahan bagi para siswa. Keceriaan memuncak saat sesi tanya jawab, di mana siswa yang aktif berhasil membawa pulang bingkisan menarik berupa kemasan makanan sehat dan bergizi sebagai bentuk apresiasi.
Kegiatan ini menjadi pengingat penting bahwa menuju tahun 2045, jalan yang harus ditempuh bukan hanya soal literasi digital atau teknologi, melainkan kembali ke meja makan, memastikan setiap anak bangsa tumbuh dengan gizi yang optimal.

