Bupati Amril Mukminin Apresiasi Pencipta Pesawat Tanpa Awak

Teks foto: Mariandi saat merakit sebuah pesawat berwarna orange

BENGKALIS – Bupati Bengkalis Amril Mukminin memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Mariandi (35) warga Desa Air Putih, Kecamatan Bengkalis yang mampu menciptakan pesawat tanpa awak.

“Atas nama pribadi, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis, tentu kami memberikan apresiasi kepada Mariandi. Ini sebuah prestasi anak bangsa dalam berinovasi,” ungkap Amril Mukminin usai launching Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Lapangan Tugu Bengkalis, Kamis 10 Oktober 2019.

Menurut Amril Mukminin, sebuah inovasi yang dihasilkan oleh anak bangsa, terlebih dari Negeri Junjungan Kabupaten Bengkalis tentu harus didukung. Apalagi, inovasinya untuk menunjang kemajuan daerah bahkan negara.

“Siapapun kita dukung. Apalagi orang daerah kita dan mengharumkan nama Kabupaten Bengkalis, bahkan bangsa Indonesia,” tandasnya.

Selama ini, Pemkab Bengkalis telah memberikan apresiasi kepada anak negeri yang telah melakukan inovasi. Salah satunya, mengikutsertakan sang inovator pada ajang teknologi tepat guna (TTG) level provinsi maupun daerah. Seperti halnya pada ajang TTG ke-21 tingkat nasional di Provinsi Bengkulu baru-baru. Pada ajang ini, Pemkab Bengkalis memboyong sejumlah hasil karya inovasi anak negeri untuk bersaing di level nasional.

Mariandi (35) warga Desa Air Putih, Kecamatan Bengkalis, Provinsi Riau, mampu menciptakan pesawat tanpa awak. Setidaknya, sudah sembilan unit pesawat tanpa awak hasil karyanya, tiga diantaranya bahkan sudah terjual.

Pesawat tanpa awak yang diciptakan ayah satu anak ini mampu melakukan pemetaan dan pengawasan lewat udara. Hebatnya, pesawat milik Mariandi mampu terbang sampai kurun waktu dua jam.

Sebagai dikutip dari situs website CAKAPLAH.com, Mariandi mampu merakit sebuah pesawat berwarna orange, tidak diperoleh dari bangku sekolah maupun perguruan tinggi, melainakn hasil autodidak yang dipelajari melalui media sosial.

Tamatan SD ini, punya keinginan membuat pesawat tanpa awak sekitar lima atau empat tahun lalu. Saat itu pria yang akrab disapa Andi bekerja sebagai pemborong di Negeri Jiran Malaysia.

"Pertama, saya mendalami. Kalau saya tengok teknologi luar Negeri macam Malaysia lebih canggih dari Indonesia. Saya mengikuti perkembangan teknologi di sana. Pertama ide muncul dari hobi, saya main-main biasa," katanya.

Menurutnya, di Malaysia menyiram pertanian pakai teknologi. Hal itu memacu pikirannya untuk merakit UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau pesawat tanpa awak. Pesawat ciptaan pertama, berukur satu meter. Cara kontrolnya masih manual memanfaatkan sebuah remote dan pernah gagal terbang.

Belajar lagi cara perakitan melalui youtube. Andi mulai pesan bodi pesawat dibuat dengan sendiri.

"Mempelajari auto pilotnya betul dua tahun ini. Lepas itu saya mendalami di youtube cara perakitan. Kalau peralatan GPS (Global Positioning System) dan lainnya dari luar negeri pesan. Ada dari Malaysia dan China. Kalau bodi dari Bengkalis sendiri," cakap Andi. #DISKOMINFOTIK


Tulis Komentar