Jumat, 21 September 2018 | 15:29:32 WIB | Dibaca : 7146 Kali

KECEBONG MENURUT BIOLOGI, KKBI DAN USTADZ ADI HIDAYAT

Oleh: Johansyah Syafri

KECEBONG. Sebagai orang yang pernah "dididik secara khusus" kurang lebih 6 tahun dalam "lingkungan Biologi", tahu betul apa itu Kecebong.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring (Dalam Jaringan), sinonim alias persamaan kata Kecebong adalah Berudu.

Kami masih ingat betul dan sampai saat ini, di kampung asal kami, Desa Jemenang, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, kata Kecebong tidak populer.

Sebaliknya dan seingat kami yang kerab disebut adalah Berudu. Namun cara menyebutnya bukan Berudu, tapi 'Beghudu'.

Sama seperti makna menurut KBBI Daring, Beghudu adalah anak Bekatak. Bekatak merupakan bahasa di kampung asal kami yang dalam bahasa Indonesia sinomimnya adalah Katak atau Kodok.

Dalam Biologi, Beghudu, Berudu atau Kecebong adalah tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidup (metamorfosis) amfibia.

Beghudu, Berudu atau Kecebong eksklusif hidup di air dan berespirasi (bernapas) menggunakan insang, seperti ikan.

Tahap akuatik (hidup di perairan) inilah yang membuat amfibia memperoleh namanya (amphibia = "hidup pada tempat berbeda-beda").

Dalam KBBI Daring tidak ditemukan kata 'amphibia' atau 'amfibia'. Namun yang ada 'amfibi' atau 'ampibi'. 'Ampibi' adalah bentuk tidak baku dari 'amfibi'.

Kebanyakan berudu herbivora, memakan alga dan bagian-bagian tumbuhan. Beberapa spesies merupakan omnivora (pemakan segala).

Ketika bertelur, Katak bisa mengasilkan dari 5.000 hingga 20.000 telur sekali bertelur. Telur katak ditempelkan di tumbuhan dalam air atau di pohon-pohon lembab bagi Katak yang hidup di hutan.

Telur Katak akan berubah menjadi larva (Tadpole) atau Beghudu, Berudu alias Kecebong setelah 21 hari.

Pada minggu ke-6 Tadpole ini mulai menunjukkan jati dirinya sebagai Katak, karena mulai terbentuk kaki dan menjadi Katak muda pada minggu ke-9.

Katak merupakan salah satu makhluk hidup purba yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan bahkan bisa bertahan dengan berbagai perubahan iklim di dunia.

Salah satu peran Katak dalam kehidupan manusia, diantaranya bisa digunakan untuk memancing ikan.

KECEBONG. Kata ini, khususnya akhir-akhir ini kerab kami dengar dan baca, khususnya melalui media sosial. Mungkin lantaran "kurang gaul", secara jujur kami sama sekali tak mengetahui apa maknanya.

Tersebab tak tahu, kami tetap beranggpan bahwa yang namanya Kecebong itu tetap Beghudu, Tadpole atau Berudu alias larva Katak. Hanya itu.

Hari ini, 16 September 2018.

Tadi pagi, seraya menunggu mantan pacar menyiapkan 'breakfast', kami coba menambah ilmu melalui www.youtube.com.

Tanpa sengaja, kami melihat sebuah video bertajuk "KECEBONG sebutan Sekaligus Sindiran oleh Ustadz Adi Hidayat Lc MA".

"Kadang-kadang ada keterangan, keterangan cepat tapi isinya bohong-bohongan. Itu yang berbahaya. Keterangan cepat bohong-bohongan disingkat Kecebong," ujar Ustadz Adi Hidayat dalam video tersebut.

Video tersebut dipublikasikan di youtube oleh Dakwah Hikmah. Sesuai keterangan singkatnya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan itu pada Ahad pagi, 18 Maret 2018 di Masjid Ar Rahman Kota Baru Parahyangan Bandung, ketika membahas tentang Hukum Cadar.

Dalam video tersebut, Ustadz Adi Hidayat juga sempat melontarkan tiga pertanyaan kepada jemaah yang mengikuti kajiannya.

Ketiga pertanyaaannya itu adalah: "Jadi kalau ada Ustadz suka ngasih keterangan cepat, tapi bohong-bohongan Ustadz apa namanya?; Kalau ada Nitizen ngasih keterangan cepat bohong-bohongan apa namanya?; Kalau ada Kiai ngasih keterangan cepat, tapi bohong-bohongan apa namanya?"

Secara serentak, ketiga pertanyaan Ustadz Adi Hidayat itu mereka jawab; "Kecebong."

"Itu Anda yang bilang, bukan saya," balas Ustadz Adi Hidayat , sebelum melanjutkan kajiannya.

Alhamdulillah, hari ini bertambah lagi ilmu kami. Setidaknya tentang kata Kecebong. *****

 

 


Johansyah Syafri

Plt. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Bengkalis

     

 

Baca Juga
Tulis Komentar