THR: TANYA HARUS RAJIN

Tunjang Hari Raya dan Idul Fitri (hari raya keagamaan), ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Bahkan, ada aturan khusus yang menatanya. Adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan, regulasi dimaksud.

Namun, tulisan ini tak bakal mengulas tentang THR Keagamaan dalam Permenaker tersebut.

Tapi, THR dalam pengertian “Tanya Harus Rajin”.

Tanya atau bertanya berarti meminta keterangan (penjelasan dan sebagainya); meminta supaya diberi tahu (tentang sesuatu).

Dalam dunia jurnalistik, sinonimnya kata tanya atau bertanya ini adalah melakukan konfirmasi. Tujuannya supaya terkonfirmasi kebenarannya. Valid. Sahih. Tidak hoaks.

Salah satu peribahasa yang memuat kata tanya atau bertanya adalah “Malu bertanya, sesat di jalan”.

Makna peribahasa tersebut, “Jika segan bertanya berarti kita akan rugi sendiri karena persoalan yang dihadapi tidak ditemukan jalan keluarnya.”

Mengapa kita tak boleh malu bertanya?

Kata Socrates, filsuf dari Yunani (469 SM-399 SM), “Bertanya-tanya merupakan awal dari pengetahuan.”

“Ilmu itu didapat dari lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir” begitu jelas Abdullah bin Abbas (619 M-687 M), sahabat dan juga sepupu Rasulullah SAW yang memiliki pengetahuan luas.

Ingin berpengetahuan luas?

Jika jawabnya ya, jangan malu untuk bertanya. Termasuk ketika dalam kesendirian.

Pasalnya, meskipun jutaan orang melihat jatuhnya apel, tetapi hanya Newton yang menanyakan mengapa.

Seandainya dia tak bertanya demikian, tentu bukan Newton yang menemukan Hukum Gravitasi.

Bertanya adalah tiket yang bisa dibawa kemana-mana, dan kapan saja. Karcis yang bisa digunakan dimana saja. Tiket yang bergaransi dapat menjadikan seseorang berpengetahuan luas.

Pastinya, tiket dimaksud tak boleh ditujukan pada rumput yang bergoyang. Atau pada hening dan kebisuan. Pada kelam pekat yang gelap hitam.

Tapi, -- meminjam jargon khasnya Pak Ndul – kepada ahlinya ahli, intinya inti, dan core of the core.

Suka akan berpengetahuan luas?

Bila jawabnya ya, maka mesti senang THR. Namun bukan suka minta THR dalam makna minta angpau; “THR untukku mana?”

Senang akan berpengetahuan luas?

Kalau jawabnya ya, jangan enggan ‘tuk bertanya. Tentu, bertanya dimaksud bukan hanya sekedar bertanya.

Sebab, “Sekedar Bertanya” adalah judul sebuah lagu ciptaan Ali Alatas, yang tak semua orang tahu liriknya, bisa melantunkannya.

Mau berpengetahuan luas?

Bila jawabnya ya, maka beranilah untuk bertanya. Jangan malas, karena ilmu dekat dengan orang yang tidak penakut untuk mencari tahu. Tidak jauh dari orang yang tak segan atau tidak enggan ‘tuk menjadi pandai atau cakap.

“Rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh” begitu ungkap sebuah peribahasa.

Sebuah peribahasa yang memang sangat teruji sekali kebenarannya. Tak pernah termakan waku. Tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.

Yuk! Mari kita jadikan THR sebagai budaya dan kebutuhan yang terucap. Bukan sebatas hasrat. Tak cuma keinginan atau harapan yang kuat.

Tanya hatimu! #####


Opini Lainnya

BEJALAR DARI HUJAN

TENANG

TERIMA KASIH

AJEK

Tulis Komentar