MINAL 'AIDIN WAL-FAIZIN, PRASANGKA DAN TABAYYUN

Minal 'aidin wal-faizin adalah tradisi yang biasa diucapkan antara sesama Muslim Indonesia.

Yakni, ketika merayakan Idul Fitri, 1 Syawal, setelah menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadan.

Jika dimaknai secara harfiah, kalimat minal 'aidin wal faizin dalam bahasa Indonesia menjadi 'Termasuk dari orang-orang yang kembali (ke fitrah) sebagai orang yang menang'.

Makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

Kembali kepada kesucian. Menjadi titik awal yang baru untuk membenahi diri setelah ditempa dengan berbagai ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan.

Salah satu ajaran akhlak dalam Islam yang luhur, umatnya dilarang berprasangka kepada orang. Sebab, berprasangka termasuk akhlak yang tercelah.

Apa itu prasangka?

Prasangka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan, adalah pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak.

Perintah agar setiap umat Islam menjauhi prasangka diantaranya terdapat dalam Quran Surat Al-Hujurat Ayat 12.

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangaka dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda, yang artinya:“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari-Muslim).

Demikian hukum asal prasangka buruk terhadap sesama Muslim, yaitu terlarang. Karena kehormatan seorang Muslim pada asalnya terjaga dan mulia.

Minal 'aidin wal-faizin.

Mudah-mudahan kalimat yang di hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1441 H ini banyak kita ucapkan dan sampaikan melalui berbagai media, benar-benar bisa menjadi penuntun diri. Dapat menjadi tunjuk ajar.

Minal 'aidin wal-faizin.

Semoga kalimat tersebut dapat kian dan semakin menjauhkan dan mengikis habis sifat suka berprasangka yang mungkin selama ini kita miliki dan bisa jadi sudah mendarah daging.

Hilangkan prasangka, perbanyak tabayyun.

Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya.

Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

Tabayyun adalah akhlaq mulia yang merupakan prinsip penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan keharmonisan dalam pergaulan.

Semoga!

Selamat Idul Fitri 1441 H. Minal 'aidin wal-faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Wallahualam bishawab! #####


Opini Lainnya

BEJALAR DARI HUJAN

TENANG

TERIMA KASIH

AJEK

Tulis Komentar