CINTA SEJATI TAK PERNAH BERLARI LANCAR

“Mengabdi tanpa pamrih untuk kejayaan negeri.”

Kalimat itu merupakan deskripsi atau moto dari sebuah grup aplikasi kirim pesan WhatsApp (WA), dimana kami menjadi salah satu anggotanya.

Di grup WA dengan anggota yang sampai setakat ini 17 orang itu, kami adalah new comer ‘pendatang baru’. Kami adalah anggota paling belakang sekali yang diadded you ‘ditambahkan’.

Pamrih, kata ini bermakna maksud yang tersembunyi dalam memenuhi keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Sedangkan tanpa, artinya tidak dengan.

Bila kedua kata itu digabung, maka maknanya bermetamorfosis menjadi tulus; ikhlas; sepenuh hati.

Memang, hanya orang yang tidak suka dengan kepura-puraan yang bisa tanpa pamrih.

Tanpa pamrih, untuk hal apa pun adalah cinta. Tentu cinta murni. Cinta sejati. Bukan cinta palsu.

Seperti untuk memperoklamirkannya, guna menjadikan negeri ini berjaya atau masyhur, memang diperlukan cinta sejati dalam mengabdi.

Sebagaimana uraian grup WA di atas, untuk kejayaan negeri ini, sangat dibutuhkan sekali pengabdi-pengabdi yang tak berpamrih.

Pengabdi tak berpamrih, ikhlas dalam kerja keras.

Pengabdi tak berpamrih, ikhlas dalam kerja cerdas.

Pengabdi tak berpamrih, ikhlas dalam kerja tuntas.

Pengabdi tak berpamrih, ikhlas dalam kerja berkualitas.

Mujur.

Bertemu orang-orang yang bisa mengabdi tanpa pamrih adalah sebuah keberuntungan.

Apalagi dapat bersahabat dengan mereka. Sangat mujur.

Menjadi sangat mujur sekali setelah bertemu dan bersahabat, kita ditambahkan di grup WA mereka. Laksana mendapat durian runtuh.

Dan, teramat sangat mujur sekali bila setiap chat ‘obrolan daring’ dengan mereka, bisa gayung bersambut dalam balas dan aksi ikhlas yang berkualitas. Umpama memperoleh durian runtuh di sebidang kebun yang luas.

“Dalam cinta sejati tak ada kejahatan,” kata Kong Hu Cu atau Konfusius, seorang guru, orang bijak, dan juga filsuf sosial terkenal dari Tiongkok (551 s.d. 479 SM).

Di jiwa dan hati pengabdi tanpa pamrih pun demikian.

Sebab itu, kami optimis, sesuai semboyan grup WA tersebut, mereka adalah orang-orang yang bekerja mujur.

Bekerja terus pada satu arah, tak ada yang melintang dan merentang. Searah setujuan, senasib sepenanggungan. Cair.

Kami percaya, dalam kondisi apa pun, mereka akan tetap seinggok sepemunyian ‘seiya sekata’. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun.

Walau tentu tak akan mulus, lebih-lebih sebagai anggota baru, moga-moga kami bisa berjalan seiring langka bersama mereka.

Kemudian dan sebagai azam, semoga kami juga bisa ikut berkontribusi bagi kejayaan negeri ini dengan mengabdi tanpa pamrih serentak dengan anggota lainnya di grup WA itu.

Kami akan terus belajar, terus belajar, dan terus belajar dari mereka untuk memburu itu, walau melalui sebuah kutipan, William Shakespeare, seorang penyair dan dramawan dari Inggris (1564-1616), menuliskan, “Untuk apa pun yang pernah kubaca, kudengar dari cerita dongeng atau sejarah, memburu cinta sejati tidak pernah lari dengan lancar.”

Begitu juga dengan bekerja tanpa pamrih. Juga akan tersendat-sendat. Tetap bakal ada yang iri. Akan ada dengki di kanan-kiri. Termasuk dari sanak famili.

Tapi itu tak boleh menjadikan mati semangat kerja sepenuh hati; setulus hati.

Thanks very much, Bro! Matur nuwun, Kang! Itulah kalimat yang saat ini bisa kami sampaikan untuk sang admin grup WA tersebut. #####

Bengkalis, 7 November 2019


Opini Lainnya

PERIGI BENING TAK MENCARI TIMBA

JAGA KOMITMEN DI ISTIQOMAH

Tulis Komentar