TABAYYUN DAN KECENDEKIAAN MENTAL

Isu, gosip sampai adu domba, selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Kondisi ini kian diperkeruh oleh sekelompok orang yang sengaja menjadikannya komoditas jual beli.

Tujuannya tentu jelas. Untuk meraup keuntungan duniawi.

Bagi umat Islam, sebuah kata yang paling ampuh agar tak termakan kabar angin, adalah tabayyun.

Di era dimana hoaks dengan mudah bisa tersebar luas seperti saat ini, mudarif tabayyun adalah ‘saring sebelum sharing (berbagi)’.

Teliti dulu sebelum membeli, itulah persamaannya. Sebuah moto yang hingga kini masih dipakai Kementerian Perdagangan.

Secara bahasa, tabayyun bermakna mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar perihal yang sesungguhnya.

Sedangkan menurut istilah, tabayyun adalah meneliti dan menyeleksi suatu informasi, tak tergesa-gesa dalam memutuskan suatu persoalan, sampai gamblang benar permasalahnnya, sehingga tak ada pihak yang teraniaya atau terzalimi karenanya.

Di zaman dimana fitnah dengan mudah memelesat cepat bak anak panah seperti sekarang ini, tabayyun bukan hanya dibutuhkan.

Tapi harus menjadi kearifan mental. Meski menjadi kecendekiaan dalam olah vokal. Patut menjadi kebijaksanaan dalam bertutur tulis.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.”

Itulah perintah Allah swt kepada umat Islam agar saring sebelum sharing.

Perintah tersebut terdapat dalam Alquran, surah Al Hujurat ayat 6.

Mengapa Allah swt memerintahkan check and recheck ‘cek dan periksa kembali’?

Jawabnya tentu dan banyak faedahnya.

Dengan tabayyun silaturahmi atau tali persahabatan akan terjaga baik.

Sebab, esensi kabar angin bukanlah lem perekat, tapi gunting untuk memisah.

Jika teliti sebelum membeli, seorang konsumen tak akan terbeli barang kedaluwarsa.

Karena, tujuan pedagang menjual barang habis tempo, tak lain dan tak bukan, untuk mengambil keuntungan di atas kerugian si pemakainya.

Bila bisa saring sebelum sharing, siapa pun kita tak akan syubhat atas benar tidaknya sebuah berita. Kita akan memperoleh informasi yang sahih; valid.

Kalau kita dapat menjadikan tabayyun sebagai kecendekiaan dalam olah vokal, kearifan dalam merangkai kata dalam tulis, berarti kita menutup erat pintu timbulnya salah paham.

Dengan tabayyun berarti kita telah mengatup kerap seluruh ventilasi tempat keluar masuknya udara fitnah.

Saring sebelum sharing itu memang susah-susah mudah, dan juga gampang-gampang sulit.

Bagi penyuka fitnah, saring dan sharing adalah sesuatu yang susah dan bahkan teramat sulit nian.

Tapi tidak buat pembenci gibah. Saring dan sharing merupakan hal yang mudah dan malahan sangat tidak sukar sekali.

Dimana kita tegak berdiri saat ini?

Soal yang jawabannya tak berat untuk mereka yang tak suka bertingkah.

Namun, menjadi pertanyaan yang susah dibalas, buat siapa saja yang banyak keletah.

“Cubit paha sendiri dulu, baru cubit paha orang lain,” sebuah kearifan lokal mengajarkan untuk kebijaksanaan mental. #####

Bengkalis, 5 November 2019


Opini Lainnya

PERIGI BENING TAK MENCARI TIMBA

JAGA KOMITMEN DI ISTIQOMAH

Tulis Komentar