MEMETIK ILMU DARI GELAS

GELAS.

Gelas adalah tempat untuk minum berbentuk tabung terbuat dari kaca dan sebagainya.

Di setiap rumah, dimana pun, dapat dipastikan ada gelas, walaupun jumlahnya mungkin tak sampai dua belas.

Semua orang juga tahu, fungsi gelas adalah wadah untuk memasukkan air (atau benda cair) ke dalam mulut dan meneguknya.

Tapi, selain itu, gelas juga bisa dijadikan guru.

Meskipun benda mati, gelas juga bisa memberikan tunjuk ajar. Mampu mengajar. Bisa membuat orang jadi pintar.

Tentu, dalam mengajar gelas tak mentransfer ilmunya melalui kata-kata. Tak pula lewat PR alias pekerjaan rumah.

Gelas memberikan ilmu melalui bahasa yang tidak menggunakan bunyi ucapan manusia atau tulisan dalam sistem perlambangannya.

Meskipun setiap hari menggunakannya, tapi karena mengajar dalam diam dan tersembunyi di balik bening dan berkilau, banyak diantara kita yang tak bisa mengambil ilmu dari gelas.

Memetik ilmu dari gelas. Itulah topik yang kami bahas bersama sejawat kami yang juga Sekretaris Diskominfotik Kabupaten Bengkalis, Mas H Adisutrisno. Suami Mbak Hj Tri Murti ini juga jiran dekat kami.

Diskusi kecil itu kami lakukan usai jam kantor sebelum pulang ke rumah, Jumat petang, 18 Oktober 2019. Lokusnya di ruang kerja kami.

Singkat kata, pendek cerita.

Di hadapannya kami letakkan dua buah gelas. Satu kosong, sebuahnya lagi penuh berisi air.

Setelah beberapa saat dia terdiam tak bisa menangkap makna di balik dua gelas yang sama dan sebangun, tapi yang sebuah kosong dan satunya penuh berisi air itu, kami pun coba menjelaskannya.

Tentu sedapat yang kami bisa. Sebisa yang kami mampu. Semampu yang kami sanggup. Sesanggup yang kami kuasa.

Orang akan berhati-hati, bahkan bisa jadi sangat waspada bila memperlakukan gelas penuh berisi. Tak akan sembarangan. Sebaliknya untuk gelas yang kosong. Bisa-bisa sesuka hati.

Juga demikian bila seseorang berhadapan dengan orang yang berisi, tak hampa atau berilmu.

Sebab, bila tak berhemat-hemat, bisa jadi seperti makna peribahasa “menepuk air didulang, tepercik muka sendiri”. Bisa mengantul atau memantul.

Gelas berisi, apalagi penuh, ianya dapat dengan mudah berbagi. Dimiringkan sedikit saja isinya pasti tumpah. Begitu juga dengan orang yang tak melompong.

Tak sama dengan gelas kosong. Diputar 180 derajat pun, di bolak-balik, tetap tak ada setetes pun air yang bakal tercurah. Termasuk bila diperas sekuat tenaga sekalipun.

Gelas kosong, seperti juga tong. Nyaring bunyinya. Untuk orang, kata-kata yang kerab kami dengar adalah banyak bicara; cuma cakap saja; hanya pandai bual. Bahasa gaulnya “omdo” alias omong doang.

Sementara gelas yang penuh berisi, suaranya padat alias pejal atau mampat. Kalau untuk orang padanan katanya montok. Biasanya kebanyakan orang (lelaki), suka yang sintal.

Agama yang kami anut, mewajibkan umatnya menjadi orang berilmu. Dalam Islam, ilmu memang ditempatkan pada kedudukan yang sangat penting.

Hal itu terlihat dari banyaknya ayat Alquran yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia.

Menurut sebuah rujukan, di Alquran, kata ilmu dan yang berkenaan digunakan lebih dari 780 kali.

Begitu pula hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Juga banyak yang memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Bahkan disuruh sampai ke liang lahat.

Menukil penulis buku Filsafat-Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Ghulsyani, “Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Alquran dan sunah yang mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi.’’

Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Mujadilah ayat 11, artinya: “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan). Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

“Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad”, demikian dikatakan Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali atau yang lebih kita kenal sebagai Imam Al-Ghazali.

“Jadilah gelas yang berisi, ojo gelas kosong”, saran kami pada Mas H Adisutrisno, sebelum dia pamit duluan pulang ke rumah.

Walau tak ada kata-kata yang terucap dari celah kedua bibirnya sebagai tanggapan, kami sama sekali tak kecewa. Pasalnya dia memberikan isyarat dengan anggukan pasti.

Semoga Mas H Adisutrisno ora lali anggukannya tadi, karena kekhawatiran kami justru ada di sini. Sebab selama ini buktinya bukan hanya sekali. Tapi sudah berulang kali. #####

Bengkalis, 18 Oktober 2019


Opini Lainnya

PERIGI BENING TAK MENCARI TIMBA

JAGA KOMITMEN DI ISTIQOMAH

Tulis Komentar