MENDISIPLINKAN DIRI DENGAN MATERAI 6000

DISPLIN dan kesuksesan.

Disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya).

Sedangkan kesuksesan adalah keberhasilan.

Disiplin dan kesuksesan mempunyai hubungan sebab akibat. Keduanya berjalan seiring langkah.

Walau bukan segalanya, boleh dikatakan tak ada kesuksesan tanpa ada kedisiplinan diri yang ikut menjadi pondasi yang membangunnya.

Kesuksesan adalah hak. Dalam hal apapun setiap orang mengidam-idamkannya. Ingin mengambil haknya itu.

Cita-cita dan kesuksesan laksana tebing di kiri-kanan sungai. Disiplin adalah jembatan yang bisa menghubungkannya.

Usaha dan pencapaiannya bagaikan dua bandara. Disiplin adalah pesawat terbang yang bisa membawanya take off dan landing.

Bagi yang pernah membaca kata mutiara Amerika Serikat (AS) ke-26, tentu tahu betul manfaat disiplin diri. Akan mengangguk setuju.

“Dengan disiplin diri, hampir semua hal bisa dilakukan”, begitu kata Theodore Roosevelt, Jr, presiden AS dua kali masa jabatan tersebut; tahun 1901 hingga 1909.

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.

Sebagai sebuah perasaan, sejatinya disiplin harus muncul dari dalam diri sendiri.

Namun juga tak haram hukumnya jika seorang berhasil mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warrahmah karena awalnya dijodohkan. Diawali rasa benci, tak suka sama sekali. Tanpa ada sedikit pun getar-getar cinta.

Disiplin pun demikian, juga tak salah bila dipaksakan. Undang-undang pun membenarkannya.

Razia penggunaan helm misalnya. Esensinya adalah pemaksaan agar pengendara disiplin dalam berkendara.

Disiplin memang seperti pengendara sepeda motor di jalan raya yang memakai helm Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengendara itu sendiri yang akan memetik manfaat memakainya. Bukan polisi atau orang lain.

Andrie Wongso, motivator dan pengusaha asal Indonesia kahiran 1954 mengatakan, “Disiplin diri merupakan senjata ampuh yang harus dimiliki setiap orang yang mau sukses! Untuk memiliki disiplin harus dibiasakan, tidak jarang pula harus dipaksakan!”

Sebagaimana juga kesuksesan, tak ada disiplin diri yang tanpa proses. Selalu saja dibayar dengan proses. Lebih-lebih proses itu adalah tindakan yang dipaksakan.

Bayaran itu pula yang mulai diberlakukan untuk seluruh pegawai Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Kabupaten Bengkalis pada kegiatan senam kesegaran jasmani di lapangan pasir Taman Andam Dewi sejak Kamis lalu, 10 Oktober 2019.

Bagi mereka yang dapat “nilai A” alias tidak hadir tanpa keterangan yang dibenarkan, wajib “menyerahkan upeti” berupa Materai Rp6000. Materai itu diserahkan kepada kami melalui Sekretaris sebagai pejabat pembina kepegawaian.

Alhamdulillah, berkat “pemaksaan” dengan Materai Rp6000, dan seraya meminjam istilah di Sidang Paripurna, maka sesuai absensi yang ditandatangani, jumlah pegawai Diskominfotik paling banyak ikut senam Kamis lalu dibandingkan Perangkat Daerah atau Unit Kerja lainnya di Pemkab Bengkalis.

Masih mengutip Andrie Wongso, “Kedisiplinan akan membiasakan. Kebiasaan akan membisakan. Kebisaan akan mensukseskan. Maka, kuatkan disiplin diri.”

Semoga seluruh sejawat di Diskominfotik paham maksud dan tujuan dari kebijakan “denda” dengan Materai Rp6000 yang tak populer tersebut. Bukan untuk kami, tapi buat mereka sendiri.

“Ketika orang lain bisa, Anda akan lebih bisa asal mau membiasakannya”, begitu tulis kami mengomentari sebuah ekspose seorang sejawat kami; Liza Atina di akun facebook miliknya, Sabtu, 12 Oktober 2019, pukul 17.34 WIB.

Pegawai Diskominfotik memang bukan mahasiswa yang perlu banyak “nilai A” dan takut dapat “nilai D”. #####

Bengkalis, 12 Oktober 2019


Opini Lainnya

Tulis Komentar