JANGAN TUNGGU SETRIKA PANAS

MENUNGGU. Salah satu kata yang kerab disandingkan dengannya adalah bosan.

Bahkan boleh dikatakan menunggu dan bosan ibarat dua sisi mata uang.

Menunggu memang menjemukan. Melelahkan.

Jika jujur, umumnya orang akan mengatakan demikian. Tak suka menunggu.

Tapi apapun hal dalam hidup ini, tetap ada pengecualian.

Setidaknya pengecualian itu ada warga Desa Suka Menanti (Kecamatan Maje, Bengkulu) atau Kelurahan Sukamenanti (Kecamatan Kedaton, Lampung).

Begitu pula bagi mereka yang cerdas dan bisa memanfaatkan waktu, menunggu bisa menambah ilmu. Jadi tempat berguru.

“Tidak perlu menunggu untuk bisa cahaya bagi orang-orang di sekelilingmu. Lakukan kebaikan sekecil apapun sekarang juga.”

Bagi yang pernah membaca buku “Andy Noya Kisah Hidupku” yang ditulis Robert Adhi KSP, tentu tahu di halaman ke berapa kalimat bernas itu ada.

Kalimat itu kami baca malam Sabtu, 11 Oktober 2019, sambil menunggu antrian di sebuah barbershop di dekat traffic light di perempatan jalan Antara, Tandun dan Wonosari Tengah, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Jangan menunggu. Untuk sebuah kebaikan yang kecil sekali pun, siapapun kita memang tak perlu menunggu. Misalnya untuk tersenyum.

“Jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, tetapi tersenyumlah untuk bahagia”, begitu pesan Shaykh Dr. Aaidh ibn Abdullah al-Qarni. Al-Qrani adalah seorang sarjana, pengarang dan aktivis Islamis Muslim Saudi.

Jangan menunggu, karena yang didapat orang yang menunggu hanya sisa.

“Banyak hal mungkin datang kepada mereka yang menunggu, tetapi hanya hal-hal yang disisakan oleh mereka yang bekerja keras”, kata ahli Fisa Albert Einstein (1879-1955).

Jangan menunggu. Karena sehebat-hebatnya orang yang menunggu, dia akan akan kalah dari orang yang mencari. Bakal kalah dari orang yang berjalan. Akan kehilangan kesempatan untuk maju.

Jemput bola. Sebab, kata Thomas Alva Edison, penemu dan pendiri General Electric dari Amerika Serikat 1847-1931, “Kesuksesan datang pada orang yang bergerak cepat ketika ia sedang menunggu.”

Jangan menunggu. “Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya”, kata Sefryana Khairil, penulis buku Dongeng Semusim (2009).

Jemput bola. Karena sesuatu yang hebat di tempat lain justru sedang menunggu kedatangan kita untuk menjemputnya.

Jangan menunggu. Bila kita menunggu orang lain merangkaikan kata untuk kita, maka sampai kapanpun tak akan yang pernah ada yang kita tulis. Kita tak akan pernah jadi penulis.

Jangan menunda sampai bisa bila ingin membuat sebuah tulisan. Bila menunggu sampai dapat, maka hingga kapanpun kita akan tertidur dalam balutan selimut tebal ketidakmampuan untuk menulis.

Sebab, sehebat  apapun seorang penulis, sebagus apapun tulisan, sebanyak apapun karya yang ditulisnya, pasti dimulai dengan satu kata.

“Jangan menunggu setrika panas baru anda menyetrika. Tapi, buatlah setrika itu panas dengan menyetrika”, begitu pesan William Butler Yeats, Penyair dan Peraih Nobel sastra (1923) dari Irlandia (1865-1939). #####

Bengkalis, 12 Oktober 2019

Catatan:

Terkhusus buat Ananda tersayang yang kini tengah membuat esai untuk sebuah “Kompetisi Teladan” di IPB University.

Jika Ayahnya bisa, insyaallah anaknya jauh lebih bisa. Ayah optimis, Nak!


Opini Lainnya

JAGA KOMITMEN DI ISTIQOMAH

LATIFAH FITRI ADALAH GURU KITA

AKU PAHLAWAN MASA KINI

Tulis Komentar