KITA DAN MEJA MAKAN

MEJA MAKAN. Membaca kedua kata itu, semua orang tentu tahu fungsinya. Meja tempat makan.

Meja makan memang tempat untuk makan. Meskipun terkadang ada yang berfungsi ganda. Juga jadi meja belajar.

Banyak jenis meja makan. Dari materialnya, seperti terbuat dari kayu, baja/stainlees steel, marmer, kaca dan keramik.

Di hampir setiap rumah, dapat dipastikan ada meja makan. Walaupun ada sebagian ibu-ibu yang sangat jarang sekali meletakkan kuliner masakannya di atasnya.

Pasalnya, di zaman sekarang ini, banyak ibu-ibu hobi makan-makan, tapi bukan pemasak. Ahli makan, namun tak pandai masak.

Sebelum dilanjutkan apa arti penting meja makan bagi keluarga kita, ada sedikit cerita. Cerita yang tentu ada kait kelindannya.

Beberapa waktu lalu, seraya menunggu rapat paripurna di DPRD Bengkalis, kami berbual dengan seorang karib yang “tiada akhirnya”.

Di salah satu episode bualan kami, dengan nada sedikit kesal, ceritanya, dia pernah minta izin istri dan putrinya, agar meja makan di rumahnya dijual saja.

Karena, katanya, eksistensi meja makan tersebut nyaris “tak terdengar”. Hampir sudah tak ada lagi. Khususnya dalam konteks untuk membangun semangat kebersamaan.

Jarang digunakan untuk makan bareng. Hampir setiap hari mereka makan sendiri-sendiri.

Hari ini memang banyak keluarga yang “beraliran”, kumpul tak kumpul yang penting makan. Bukan makan tak makan yang penting kumpul.

Keberadaan meja makan di rumah, dalam konteks pembangunan keluarga sejahtera, ada korelasinya. Sangat erat hubungannya.

Dulu, waktu di BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), kami paham betul stratifikasi keluarga sejahtera.

Yakni, dikelompokkan menjadi 5; Keluarga Pra Sejahtera (KPS); Sejahtera I (KS-I), Sejahtera II (KS-II); Sejahtera III (KS-III); Sejahtera III Plus (KS-III +).

Secara kuantitatif, bentuknya seperti piramid. Makin tinggi tingkat kesejahteraan, makin sedikit jumlah keluarga yang ada di level itu.

Lantas, kira-kira berada di tingkatan mana kebanyakan keluarga di Indonesia dan juga keluarga kita?

Bila dikaitkan dengan keberadaan meja makan di rumah, kebanyakan di KS-II. Bukan di KS-III. Apalagi KS III Plus.

Sebab, umumnya kita belum bisa menggunakan meja makan di rumah, sebagai sarana memenuhi salah satu indikator (indikator ke-17), sehingga bisa berada di stratifikasi KS-III.

Kita belum bisa memfungsikan meja makan di rumah sebagai tempat terbaik untuk makan bersama dan berkomunikasi antar sesama anggota keluarga (suami dan istri; suami, istri dan anak; ibu dan anak; ayah dan anak). Meskipun hanya sekali dalam seminggu.

Memang, makan bersama di luar setiap hari tanpa adanya komunikasi untuk membahas persoalan seminggu lalu, atau bermusyawarah antar sesama anggota keluarga, bukan indikator keluarga KS-III.

Sekalipun makan di luar itu dilakukan di tempat yang tinggi harganya, dengan meja makan yang juga mewah.

Meja makan di rumah memang merupakan tempat yang terbaik dan murah untuk membangun komunikasi antar sesama anggota keluarga. Untuk melepas rasa rindu. Untuk saling bertanya kabar. Untuk berkomunikasi satu sama lain.

Lebih-lebih bila hidangan yang disajikan masakan istri tercinta. Bukan buah olahan asisten rumah tangga. Atau, bukan pula hasil masakan jasa boga. *****

Bengkalis, 11 September 2019


Penulis

Opini Lainnya

BEKERJA TULUS ITU MERUGI?

SINERGITAS BUKAN BAHASA INDONESIA

BENARKAH ANGGOTA DPRD DILANTIK?

Tulis Komentar