Jumat, 19 Januari 2018 | 15:43:51 WIB | Dibaca : 5123 Kali

Kita Diantara 'Positive Thinking' dan 'Negative Thinking?

Kita Diantara 'Positive Thinking' dan 'Negative Thinking? Teks foto: Johansyah Syafri

Positif dan negatif. Dua kata ini bukan hanya ada dalam Matematika atau dunia pelistrikan. Tetapi juga pada cara berpikir seseorang; ‘positive thinking’ (pikiran positif) dan ‘negative thinking’ (pikiran negatif).

‘Positive thinking’ adalah cara berfikir yang di proses secara positif yang menghasilkan “energi yang positif”, yaitu suatu energi yang akan menghasilkan pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap yang baik yang dapat membuat manusia menjadi bersemangat, melakukan hal-hal yang benar dan menjadi bahagia.

Sebaliknya, ‘negative thinking’ adalah pola atau cara berpikir yang lebih condong pada sisi-sisi negatif dibanding sisi positifnya. “Energi” yang dihasilkan pun “energy yang negative”. Pola pikir ini bisa tampak dari keyakinan atau pandangan yang terucap, cara seseorang bersikap, dan perilaku sehari-hari.

Karena sisi negatifnya lebih dominan, tak heran jika cara berpikir orang seperti ini dipenuhi sikap apriori (berpraanggapan sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya), prasangka, ketidakpercayaan, kecurigaan, dan kesangsian, yang seringkali tanpa dasar atau tanpa nalar sama sekali.

Orang yang negative thinking yaitu orang yang selalu berpikir negatif dalam menghadapi banyak hal. Yang positif memang ada, tetapi yang dilihat adalah sisi-sisi negatif, sedangkan sisi-sisi positifnya sedapat mungkin jangan sampai dimunculkan.

Apa tujuan pikiran negatif seseorang? Tak lain dan tak bukan untuk menjatuhkan muruah atau marwah (kehormatan diri; harga diri; nama baik) orang yang “ditembaknya”. Bak kata sebuah peribahasa, “ada ‘udang di balik batu”.

Siapa orang suka ‘negative thinking’ adalah orang yang wawasan atau cara pandang (konsepsi) berpikirnya sempit, meskipun berpendidikan tinggi.

Sedangkan ‘positive thinking’ biasanya dimiliki oleh orang yang punya wawasan berpikir yang luas, walaupun berpendidikan rendah sekalipun.

Dari sisi agama yang kami yakini, ‘su'udzon’ (begitu sinonim kata yang kerap dipakai ustadz H Amrizal, H Ali Ambar, Muhammad Subli, Awal Hasibuan, Filusmanfilsuf Al Hasyimi dan Khairuddin Saleh di atas mimbar) dihasilkan dari jiwa atau hati yang kotor akibat dari lemahnya keimanan terhadap Allah SWT.

Pikiran negatif muncul dikarenakan hati dikuasai rasa tidak ikhlas, tidak merasa cukup, tidak bersyukur, tidak berserah diri pada-Nya, dan atau tidak menerima kejadian-kejadian dan perbedaan di muka bumi yang sebenarnya sudah diatur oleh-Nya.

Memakai hukum kausalitas, pikiran negatif adalah akibat. Sebagai akibat, tentu ada penyebab. Lantas pertanyaannya, apa penyebab pikiran negatif?

Menurut salah satu pendapat, diantaranya disebabkan pola asuh keluarga yang negatif. Mengapa terjadi pola asuh keluarga negatif?

Mengutip materi yang kerab disampaikan Ombak Fadli Faren tak kala menyampaikan penyuluhan tentang KB (Keluarga Berencana), pola asuh negatif disebabkan 8 fungsi dalam sebuah keluarga tidak terlaksana dengan baik.

Apa 8 fungsi keluarga dimaksud? Masih menukil materi penyuluhan Ombak Fadli Faren, yaitu fungsi agama, cinta dan kasih sayang, sosial dan budaya, perlindungan, reproduksi, lingkungan, ekonomi serta sosialisasi pendidikan.

Tanpa bermaksud mengambil alih kewenangan ustadz H Amrizal, H Ali Ambar, Muhammad Subli, Awal Hasibuan, Filusmanfilsuf Al Hasyimi dan Khairuddin Saleh, namun sepengetahuan kami, bagi umat Islam yang beriman, larangan Allah SWT., tentang prasangka buruk ini, diantaranya terdapat dalam surat Al-Hujurat ayat 12; “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Sedangkan sabda Rasulullah SAW., diantaranya yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, yang artinya; "“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”.

Mengutip Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr dalam tulisannya yang bertajuk ‘Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan’, Bakar bin Abdullah Al-Muzani berkata: “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Masih menukil dari sumber yang sama, Abu Hatim bin Hibban Al-Busti berkata: "Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan.”

Apa itu tajassus? Tajasus adalah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Selanjutnya, kata Abu Hatim bin Hibban Al-Busti: “Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.

Apa yang dikemukakan Abu Hatim bin Hibban Al-Busti, senada dengan pendapat William Hazlitt (penulis Inggris, 1778-1830) dan Voltaire (penulis dan filsuf dari Prancis, 1694-1778).

“Prasangka adalah alasan orang bodoh,” kata Voltaire. Sedangkan William Hazlitt, mengatakan; “Prasangka adalah turunan dari kebodohan.”

Memang, sebenarnya semua orang tahu bahwa kekuatan pikiran positif bisa memberikan energi positif dalam dirinya. Namun sayangnya, ada yang sulit mengendalikan pikiran-pikiran negatif. Bahkan sebaliknya, dikendalikannya.

Mengapa seseorang sulit mengendalikan ‘negative thinking’? Jawabnya mungkin ada dalam sebuah rangkaian kata yang dikemukakan Tria Barmawi, penulis buku ‘Siapa Bilang Kawin itu Enak’; “Hilangkan semua prasangka buruk itu dari benak kamu. Itu kan sakit yang kamu ciptakan sendiri.”

Apa kerugian yang senantiasa mengedepankan ‘negative thinking’, selalu melihat sesuatu itu dari kaca mata atau sudut pandang nan tak elok?

Ternyata, ‘negative thinking’ bukan hanya membuat rasa percaya diri berkurang, tetapi juga membuat hidup seseorang tak bahagia, selalu penuh curiga dan kecemasan alias kusut masai perasaannya.

“Dengan berprasangka baik saja, hati kau masih ketar-ketir memendam duga, menyusun harap, apalagi dengan prasangka negatif, tambah kusut lagi perasaan kau,” ujar penulis buku (novel) ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ (2010) dan ‘Sepotong Hati yang Baru’ (2012).

Tak hanya itu, ‘negative thinking’ ternyata juga membuat penampilan seseorang terlihat lebih tua. Ingin demikian? Jika jawabnya ‘iya’, silahkan pelihara ‘negative thinking’. Bila ‘tidak’, jangan hanya ‘say no to drug’, tetapi juga ‘say no to negative thinking’.

Terakhir dan yang tak kalah penting adalah pesan Greg S Reid, pengarang dari California, Amerika Serikat; “Larilah dari orang-orang yang bersikap negatif.”

Mengapa harus lari, sebab dan seakan menyambung Greg S Reid, seorang penulis yang juga berasal dari California, Anthony Robbins, mengingatkan; “Bergaul dengan orang yang berpikir negatif dengan sendirinya mendorong Anda jadi pemalas, gagal.”

Diantara ‘positive thinking’ dan ‘negative thinking’, dimana posisi kita saat ini?

Wallahu ‘a'lam bishawab!*****

Bengkalis, Negeri Junjungan
Jum’at, 19 Januari 2018