Sabtu, 09 November 2019 | 7:49:03 WIB | Dibaca : 485 Kali

RASULULLAH SAW SEBAIK-BAIK PENYUNDUT OPTIMISME

Editor : Drs. Johansyah Syafri - Reporter : - Fotografer :
RASULULLAH SAW SEBAIK-BAIK PENYUNDUT OPTIMISME Teks foto: Kadis Kominfotik Kabupaten Bengkalis

Optimisme.

Walau tak bisa digenggam seperti pasir di pantai, optimisme merupakan nomina. Termasuk kata benda. Jadi eksistensinya ada.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, arti optimisme adalah paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan. Sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal.

Optimisme adalah tekad. Nutrisi atau makanan bergizi. Bahan bakar yang dibutuhkan untuk menggerakan mesin agar roda bisa berputar ke arah pencapaian prestasi.

Adalah sebuah kesia-siaan jika melakukan sesuatu tanpa harapan dan keyakinan.

Bila memperbuatnya, maka laksana berlayar tapi tak tahu dermaga yang dituju untuk berlabuh. Percuma. Mubazir. Buang-buang waktu dan energi.

Sesuai ajaran agama yang kami anut, sesulit apa pun keadaan atau kondisi atau situasi yang dihadapi, seorang muslim harus optimistis.

Tanpa memiliki keyakinan ini, cobaan kehidupan akan mengempaskan seorang muslim ke dalam ruang hampa tanpa harapan. Ke dalam jurang keputusasaan.

Bagi seorang mukmin, hidup dengan berbagai harapan, dengan banyak target, merupakan salah satu wujud yakin bahwa Allah swt itu ada.

Betul-betul percaya jika Sang Khaliq itu adalah sebaik-baiknya penolong. Sebaik mungkin pelindung. Kodrat dan iradat atas segalanya. Allahu Akbar.

Tentu, harapan atau target dimaksud terhadap sesuatu yang kita tahu. Bukan kepada sesuatu yang hitam gelap pekat dalam kepandaian yang kita miliki.

Bila harapan atau target itu gantungkan pada sesuatu yang sama sekali tidak kita mengerti, hasilnya akan sangat dekat, bakal kian mendekatan kita pada arti peribahasa “bagai pungguk merindukan bulan”. Pada kata impossible ‘mustahil’.

Bila dikemas dalam bentuk sebuah pantun kiasan, kira-kira begini bunyinya: “Pergi ke hutan memikat burung, dapat Kutilang dan juga Murai, maksud hati memuluk gunung, apalah daya tangan tak sampai.”

Sebagaimana takrir Nabi Muhammad saw, pada diri setiap umatnya sikap agar selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal tak boleh dihapuskan. Tak boleh hilang walau kiamat datang pada saat itu juga.

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah,” begitu pesan Rasulullah saw.

Menurut sejumlah rujukan yang kami baca, hadis tersebut diriwayatkan Bukhari dan Ahmad.

Memang, bagi setiap muslim yang mukmin, sebaik-baik penyundut atau motivator dalam menyalakan api semangat agar senantiasa bersikap selalu menggantungkan asa yang baik dalam segala hal, tak lain dan tak bulan, dia adalah Sang Penyempurna Akhlak: Nabi Muhammad saw.

“Belum. Tetap atau jatuh tapai? Tinggal dua pilihan! Tak usah dipikirkan. Santai! Semua sudah tertulis saat nafas pertama berhembus,” itulah kalimat yang kami kirim pada sejawat melalui layanan berbagai pesan WhatsApp (WA) beberapa hari lalu, dengan tujuan untuk menghapus pesimistis yang perlahan tapi pasti mulai mengisi benaknya.

Selamat memperingati maulid Nabi Muhammad saw, 12 Rabiul Awal 1441 H. #####

Bengkalis, 9 November 2019