Jumat, 11 Oktober 2019 | 8:18:00 WIB | Dibaca : 3112 Kali

JANGAN BUSUK HATI

Editor : Drs. Johansyah Syafri - Reporter : - Fotografer :
JANGAN BUSUK HATI Teks foto: Kadis Kominfotik Kabupaten Bengkalis

JANGAN busuk hati.

Tiga kata itu disampaikan Kasat Polisi Pamong Praja, Jenri Salmon Ginting.

Kalimat itu diucapkannya tadi pagi.

Saat kami berdua bersua di pelabuhan feri penyeberangan Tanjung Pagar, Desa Air Putih, Kecamatan Bengkalis.

Tentunya kata-kata itu bukan ditujukan ke kami. Sebab, sebagaimana mantan pacar kami, kami berdua pun berkarib erat, walau tak berjiran dekat.

Busuk hati sinonimnya iri hati, dengki, khianat dan jahat.

Sedangkan iri hati bermakna kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya); cemburu; sirik; dengki.

Menurut id.wikipedia.org, iri hati adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tak memiliki suatu keunggulan (baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya), menginginkan yang tak dipunyainya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya supaya kehilangannya.

Dalam sebuah tulisan bertajuk “Hati-Hati dengan Dengki” di republika.co.id, KH Abdullah Gymnastiar mengatakan, “Kenapa iblis tak mau bersujud kepada Nabi Adam as? Sebab, iblis sangat dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis.”

Selanjutnya, Aa Gym, begitu ia lebih dikenal, menuliskan, “Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu.”

“Seorang pendengki hidupnya tak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan muak kepadanya. Jika kelak mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat hina di hadapan Allah”, sambungnya.

“Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan terbalik, sehingga neraka jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang akan Allah timpakan kepada seorang pendengki”, kata Aa Gym.

Meskipun ada pengecualian, Islam, agama yang kami yakini, memang tak memberikan ruang untuk busuk hati bagi umatnya. Sangat melarangnya.

Bukan hanya Islam, sepanjang yang kami ketahui, agama lain pun mengajarkan demikian.

“Jangan berlebihan menilai apa yang kamu terima, apalagi iri dengan milik orang lain. Dia yang iri dengan milik orang lain sulit mendapatkan kedamaian batin”, kata Buddha, pemimpin spiritual (lahir Sidharta Gautama).

Jangan suka iri hati, kecuali untuk yang dikecualikan. Mengapa?

Karena iri hati milik orang bodoh. Inferior.

Kata Epicurus, filsuf dari Yunani (skt.341-270 SM), “Orang bodoh tidak merasa cukup puas dengan semua yang telah dicapainya melainkan hanya merasa iri terhadap keberhasilan orang lain.”

Jangan suka iri hati, kecuali untuk yang dikecualikan. Mengapa?

Karena iri hati akan menyebabkan kita sulit maju. Hanya buang-buang waktu.

“Makin banyak kita membuang waktu untuk merasa iri pada bakat ataupun kesuksesan orang lain, maka semakin sulit pula kita berkembang maju”, kata Andrie Wongso, motivator dan pengusaha asal Indonesia.

“Rasa iri, seperti nyala api, menghitamkan segala sesuatu yang melayang di atasnya karena dia tak bisa mencapainya,” kata penyair dari Perancis, Jean Antoine Petit-Senn (1792-1870).

Jangan iri hati. Kalau pun tak bisa dihindari, jangan dipertontonkan. Jangan didedahkan. Jangan diumumkan.

Sebab, kata kritikus sastrra dari Inggris, John Churton Collins (1848-1908), “Iri hati adalah bentuk sanjungan yang tulus.”

Semoga kita bisa termasuk “orang sedikit” yang dikemukakan dramawan dari Yunani, Aeschylus (BC 525-456).

“Hanya sedikit orang yang memiliki kekuatan untuk menghormati kesuksesan seseorang tanpa merasa iri hati,” kata Aeschylus.

Jangan busuk hati. Iri hati juga seperti narkoba. Harus katakan tidak untuk dengki.

Jangan busuk hati, karena iri atau dengki adalah penyakit diri, bukan prestasi terpuji. #####

Bengkalis, 11 Oktober 2019